Friday, July 21, 2006

I'd Like To See You Crying

Satu kali aku pernah menangis. Karena satu hal yang benar-benar konyol. Aku menyesal telah menangisinya.
Dan aku benar-benar malu.
Aku benar-benar merasa kehilangan harga diri setelah itu.
Apa untungya aku menagis waktu itu? Brengsek!
Aku benar-benar terjebak dan tak terkendali. Aku malu dan sungguh menyesal.
Mengapa aku menangis? Untuk apa aku tangisi? Bodohnya aku ini!
Cukup! Sampai di sini saja. Tak perlu lagi aku menangis.
Karena tangisku tak berarti, tak bertujuan, dan tak jelas pangkalnya.
Jangan sampai aku menangis lagi. Aku mohon.

Surat Cinta

Genteng, 26 Januari 2006

Untuk Engkau
yang Tanpa Sengaja Hinggap di Hatiku

Aku tak tahu seperti apa sebenarnya kadar cintaku untukmu. Aku nyaris tak merasakan apa-apa dalam hatiku. Apakah karena perasaanku yang begitu dalamnya hingga jiwaku tak dapat menyentuhnya? Atau apakah rasa itu terlalu dangkal hingga aku tak dapat merasakan gelombangnya? Aku tak tahu.

Aku hanya tahu bahwa aku telah jatuh cinta. Apakah itu hanya jatuh cinta atau hanya jatuh hati saja? Aku tak dapat bedakan. Kalau itu jatuh cinta, apakah itu biasa saja atau untuk terakhir kalinya?

Kehadiranmu dalam diriku begitu tiba-tiba. Begitu cepat, namun aku benar-benar sadar kalau kau telah memasuki hatiku.

Dari semua itu, aku tahu aku benar-benar menginginkanmu. Namun aku harus menyimpan rapat segala harapanku, karena aku masih harus menunggu, dan kita masih harus saling tahu.

Akankah kau menjadi takdirku?

With Love,
Aku yang Mencintaimu